Halo! Saya drg. Stephanie Adelia Susanto, MM., Sp. Ort. Sebagai seorang ortodontis di klinik Opal Dental Indonesia, salah satu keluhan yang paling sering saya temui di klinik adalah susunan gigi yang berantakan atau rasa nyeri misterius di area rahang. Tahukah Anda bahwa salah satu dalang utamanya sering kali adalah impaksi gigi?
Mari kita bahas lebih dalam mengenai apa itu impaksi gigi, mengapa bisa terjadi, ciri ciri impaksi gigi dan bagaimana kita menanganinya.
Mengapa Impaksi Gigi Bisa Terjadi?

Proses pergantian gigi adalah perjalanan yang panjang. Gigi susu mulai tumbuh saat bayi berusia 4–6 bulan dan lengkap di usia 2–3 tahun. Memasuki usia 6 tahun, gigi susu mulai tanggal untuk memberi jalan bagi gigi permanen. Normalnya, orang dewasa memiliki 32 gigi permanen, termasuk 4 gigi bungsu yang baru akan muncul di usia 17–25 tahun.
Namun, terkadang ada gigi yang "terjebak" dan tidak bisa tumbuh sempurna menembus gusi. Inilah yang kita sebut sebagai impaksi. Kondisi ini sering kali terjadi karena:
- Faktor Genetik (Rahang Sempit): Ini adalah kasus yang paling sering saya tangani. Ukuran rahang yang kecil membuat gigi (terutama gigi bungsu) tidak memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh sejajar.
- Gigi Susu Terlambat Tanggal: Gigi susu yang bertahan terlalu lama bisa menghalangi jalur tumbuh gigi permanen di bawahnya.
- Adanya Penghalang Medis: Seperti munculnya tumor atau kista di area rahang yang memblokir pertumbuhan gigi.
Mengenali Gejala Impaksi Gigi
Impaksi paling sering terjadi pada gigi bungsu, meski bisa juga menyerang gigi taring. Menariknya, jika gigi impaksi secara total (terkubur sepenuhnya di dalam gusi/tulang), Anda mungkin tidak merasakan gejala apa pun pada awalnya. Namun, secara diam-diam gigi tersebut dapat mendorong gigi-gigi di depannya, sehingga susunan gigi yang tadinya rapi perlahan menjadi berantakan.
Jika impaksi terjadi sebagian (gigi hanya muncul sedikit), sisa makanan dan plak sangat mudah terjebak di celah gusi. Ini bisa memicu infeksi dengan gejala seperti:
- Bau mulut (halitosis)
- Gusi bengkak, merah, dan terasa sakit di area gigi yang mau tumbuh (perikoronitis)
- Sakit kepala atau nyeri rahang yang terus-menerus
- Timbul celah antara gigi impaksi dengan gigi di sebelahnya
- Kesulitan membuka mulut (trismus)
- Pembengkakan kelenjar getah bening di area leher
Kapan Harus ke Dokter Gigi?
Jangan abaikan rasa tidak nyaman di area rahang atau gusi, terutama jika nyeri menjalar hingga ke wajah, telinga, leher, atau kepala. Sering kali pasien mengira mereka mengalami migrain atau masalah saraf, padahal sumber utamanya adalah gigi yang impaksi.
Segera periksakan diri Anda jika mengalami nyeri gusi, bengkak, atau menyadari ada gigi yang tidak tumbuh dengan wajar.
Jika Anda ingin berdiskusi langsung mengenai kondisi gigi Anda, Anda bisa mengunjungi website Opaldentalindonesia.com. Di sana, Anda bisa melihat jadwal praktik saya maupun tim dokter lainnya, serta melakukan booking dengan mudah agar tidak perlu antre lama di klinik.
Proses Diagnosis di Klinik
Untuk memastikan apakah keluhan Anda benar-benar disebabkan oleh impaksi, saya akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan klinis rongga mulut. Selanjutnya, kita wajib melakukan pemeriksaan penunjang seperti:
- Foto Rontgen Panoramik: Untuk melihat gambaran keseluruhan posisi gigi yang tersembunyi, serta mendeteksi kerusakan pada gigi tetangga atau tulang rahang.
- CT Scan (CBCT): Jika kasusnya cukup kompleks, CT Scan membantu saya melihat posisi gigi secara 3D, posisinya terhadap saraf rahang, dan kondisi tulang dengan sangat detail.
Bagaimana Pengobatannya?
Perawatan impaksi gigi sangat bergantung pada posisinya dan seberapa parah keluhannya. Jika posisinya aman dan tidak ada gejala, saya biasanya hanya akan meminta Anda rutin kontrol untuk observasi. Namun, jika sudah menimbulkan masalah, ini langkah yang akan kita ambil:
- Pencabutan Biasa: Bisa dilakukan jika gigi sudah erupsi (muncul) sebagian besar dan posisinya memungkinkan untuk dicabut tanpa bedah.
- Operasi Odontektomi (Bedah Ekstraksi): Ini adalah tindakan untuk gigi yang impaksi total atau posisinya miring ekstrem. Dokter akan membuat sayatan kecil pada gusi, mengangkat gigi tersebut, dan menjahitnya kembali.
- Medikasi: Saya akan meresepkan pereda nyeri (seperti asam mefenamat) dan antibiotik jika ada indikasi infeksi untuk membantu masa pemulihan pasca-tindakan.
- Perawatan Ortodonti (Behel Gigi): Nah, sebagai spesialis ortodonti, ini adalah tahap krusial. Jika daya dorong gigi impaksi sudah telanjur membuat susunan gigi Anda berantakan atau mengubah gigitan (bite), kita perlu merapikannya kembali menggunakan kawat gigi atau clear aligners setelah luka operasi sembuh.
Komplikasi Jika Diabaikan
Gigi impaksi yang bermasalah namun dibiarkan bisa menjadi bom waktu. Beberapa komplikasi serius yang bisa terjadi meliputi:
- Rusaknya susunan gigi (maloklusi) karena terdorong secara terus-menerus.
- Infeksi berulang dan penumpukan plak yang merusak gusi.
- Terbentuknya abses (kantong nanah).
- Gigi tetangga ikut berlubang atau akar giginya rusak akibat tekanan.
- Kerusakan saraf rahang (saraf mandibula) jika kista/infeksi semakin membesar.
Pencegahan: Bisakah Dihindari?
Karena mayoritas impaksi gigi dipicu oleh faktor genetik rahang yang sempit, kita tidak bisa sepenuhnya mencegah gigi tersebut tumbuh secara impaksi. Namun, kita sangat bisa mencegah komplikasinya dengan langkah berikut:
- Skrining Ortodonti Dini: Bawa anak Anda ke dokter gigi atau ortodontis sejak gigi permanen mulai tumbuh untuk mendeteksi dini apakah ada potensi rahang sempit.
- Jaga Kebersihan: Sikat gigi 2 kali sehari dan gunakan obat kumur untuk mencegah sisa makanan tersangkut di area gusi belakang.
- Rutin Kontrol: Periksakan gigi minimal 6 bulan sekali agar impaksi bisa terdeteksi dari Rontgen sebelum menimbulkan rasa sakit.
Memiliki gigi sehat dan susunan yang rapi bukan hanya soal estetika, tetapi juga kunci utama kesehatan jangka panjang. Mari rawat senyum Anda mulai hari ini!